www.tirastimes.com
Selasa, 16 Juli 2019
 
Sastrawan Riau dan Papua Tampil dalam Bincang Satu Jam di Rock FM Papua
Selasa, 08-05-2018 - 05:40:01 WIB
Suasana bincabg satu jam di Rock FM
TERKAIT:
 
  • Sastrawan Riau dan Papua Tampil dalam Bincang Satu Jam di Rock FM Papua
  •  

    JAYAPURA-TIRASTIMES: Sastrawan Riau, Fakhrunnas MA Jabbar bersama sastrawan Papua, Vony Aronggear dan pemusik-sastra muda,  Kintan Adrlvyana  Senin pagi (7/5) tampil dalam acara Bincang  Satu Jam   di Rock FM, Jayapura. Acara yang dipandu penyiar perempuan, Ully secara akrab dan dinamis ini diselingi penampilan musikalisasi Kintan. Fakhrunnas berada di Papua bersama isteri, Tutin Apriyani dalam Safari Sastra dan perjalanan wisata.

    Fakhrunnas MA Jabbar saat ditanya oleh Ully tentang kesan dan potensi sastrawan Papua dalam perkembangan sastra Indonesia mengungkapkan sebenarnya banyak bakat terpendam potensial di daerah ini yang bisa mrmbesarkan nama Papua. Namun, peluang dan tantangannya tidak mudah karena memerlukan tekad, semangat dan kerja keras yang menerlukan dukungan penuh pihak pemerintah.

    'Menurut Fakhrunnas, sejumlah nama sastrawan dan pegiat sastra Papua sudah  bermunculan. Sebutlah ada John Warumi, Vony Aro ggear, Igir Alkatiri, Alek Giyai (Komunitas Sastra Papua), Philemon Keiya dan beberapa lagi. Namun, keberadaan mereka belum mendapat dukungan yang sepantasnya dari pihak pemerintah.

    ''Padahal, Papua ini berstatus sebagai Otonomi Khusus yang mempunyai anggaran dana sangat besar. Sudah saatnya pemerintah di sini memberikan perhatian bagi pengembangan sastra dan literasi Papua,'' kata  Fakhrunnas.

    Menurut Fakhrunnas, sebenarnya kegiatan dan  hobi bersastra bila dilakukan secara bersungguh-sungguh dapat memberi manfaat secara sosial dan ekonomi. Berdasarkan pengalaman masa lalu, semasa masih kuliah di tahun 2980-an di Riau, dia pernah membayar uang kuliah sampai tiga semester yang bersumber dari honorarium tulisannya yang dimuat di suratkabar dan majalah pada masa itu.

    ''Saya juga pernah diundang dua kali  memberikan makalah, baca sastra dan menjadi dosen tamu di Paris (Prancis) karena sastra. Jadi teman-teman di Papua ini pasti bisa pula mendapatkan peluang yang sama. Kemudian ikut dalam rombongan Tim Kesenian Riau di Swiss sebagai pembaca puisi. Saatnya terus berkarya menciptakan karya-karya sastra besar dengan memanfaatkan nilai lokaliras Papua yang sangat potensial,'' ujar Fakhrunnas.

    Ketika ditanya Ully soal pengaruh karya sastra dalam memberantas tindakan korupsi, Fakhrunnas menanggapi, karya sastra atau puisi hanya dapat menyampaikan pesan lewat sindiran. Sebab, secaea hukum upata pemberanrasan kirupsi itu sudah dilakukan oleh aparat penegak hukum.  Mana tahu lewat sindiran itu, oknum pejabat atau pelaku korupsi bisa sadar dan tersentuh.  Di Indonesia saat ini ada komunitas Puisi Menolak Korupsi yang digagas oleh penyair Sosiawan Leak dan kawan-kawan yang terus menyuarakan suara perlawanan pada korupsi. Setidak-tidaknya ada 600-an penyair terlibat dalam kegiatan penerbitan buku, baca puisi, diskusi dan seminar atau kunjungan ke sekolah dan lembaga.

    Sementara Vony Aronggear mengemukakan pengalamannya dalam membina para generasi muda melalui sanggar atau komunitas secara mandiri yang berbasis di sekolah atau masyarakat. Namun, tantangan yang dihadapinya begitu besar sehingga memerlukan kerja keras yang tak kenal lelah.

    Vony selanjutnya  mengungkapkan dirinya bersama sejumlah sastrawan dan pegiat sastra sering dicurigai dengan tuduhan seolah-olah ingin mendapatkan keuntungan tertentu. Padahal, sesungguhnya mereka yang justru berkorban secara jiwa raga dan waktu serta finansial yang tak jarang harus menggunakan dana pribadi.

    Vony menceritakan pengalamannya saat ingin menerbitkan buku antologi karya siswa SMAN 2 yang sebelumnya dibina bersama sastrawan Igir berupa pelatigan-pelatihan penulisan. Waktu itu, atas kebaikan salah seorang orangtua siswa, dana diperoleh sebesar Rp. 14 juta ditambah bantuan sekolah sebesar Rp. 3 juta. Dalam penilaian pihak lain yang tak paham urusan mencetak dan menerbitkan buku, dana sebesar itu dianggap sangat besar. Padahal, biaya cetak buku sebanyak 800 eks, ongkos kirim dari Yogyakarta, biaya pelatihan dan sebagainya sudah melebihi dana yang tersedia. Semua penggunaan dana tersebut dipertanggungjawabkan secara tertulis dan terbuja agar tidak menimbulkan fitnah.

    Tapi segala pengorbanan yang besar itu, kata Vony terobati ketika Dinas Pendidikan memberikan penghargaan kepada 12 siswa yang karya sastranya dimuat di dalam buku antologi tersebut.

    Pada kesempatan yang sama, Kintan sempat menampilkan musikalisasi puisi yang mengangkat puisi Vony. (fj)



     
    Berita Lainnya :
  • Sastrawan Riau dan Papua Tampil dalam Bincang Satu Jam di Rock FM Papua
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Ikatan Mahasiswa Siak di Jogja Komit Promosikan Budaya Daerah
    2 Meriahnya Kampung Toga dari Mempura
    3 GenRe Educamp 2019 Upaya BKKBN Hadapi Permasalahan Remaja
    4 Pompong Tenggelam di Rohul, 1 Penumpang Tewas
    5 Gubri jadi Tamu Istimewa di MTQ Ke XVII Kecamatan Tualang
    6 292 CJH Pekanbaru Belum Lunasi BPIH Tahap Pertama
    7 Sudah 147 Usaha di Pekanbaru Urus Izin Restoran dan Rumah Makan Non Muslim
    8 Sekda Siak Sebut Bapekam Mesti Paham Tupoksi
    9 Silat Serunting 12 Pukau Pengunjung Pawai FPN
    10 Jelang Pemilu Serentak 2019, ASN Harus Netral
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Opinion | Indeks
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2017 www.tirastimes.com | LUGAS, TUNTAS..TAS..TAS, All Rights Reserved