www.tirastimes.com
Jum'at, 04 Desember 2020
 
Tulisan telah dibaca sebanyak: kali
Pengasuh : Bambang Karyawan, YS, M.Pd
EDISI 1 : PUCUK KATA (Lembaran Sastra Remaja)
Minggu, 15-11-2020 - 14:29:24 WIB
Pucuk Kata : Lembaran Sastra Remaja

TERKAIT:
 
  • EDISI 1 : PUCUK KATA (Lembaran Sastra Remaja)
  •  




    Edisi 1 Lembaran 2

    Prasangka

    (Wahyu Amanda Subari – SMA Cendana Pekanbaru)


    Tiga kali terdengar suara pukulan kentongan menembus keheningan jiwa yang terlena oleh mimpi ilusi, saat dipukul oleh petugas ronda. Kokok ayam dan pekikan jangkrik pun masih samar-samar terdengar ditimpali tetesan air yang menghantam genteng penduduk Jalan Mawar. Sejenak alam menjadi hening. Seolah memberi celah pada teriakan marbot melalui toa masjid atau musala, tuk mengajak umat muslim agar bergegas sahur di hari pertama Ramadhan ini. Mungkin saja ada orang yang merasa terganggu dengan suara itu, tapi tidak bagi Imam. Pemuda yang baru saja lulus dari bangku SMA ini sudah biasa terbangun dari tidurnya di keadaan heningnya malam untuk beribadah kepada Allah SWT. Namun Ramadhan kali ini dirasa berbeda bagi Imam karena tepat dua hari yang lalu ibunya telah dipanggil oleh Allah SWT., bukan karena kasus COVID-19 melainkan penyakit ginjal yang dideritanya dua tahun belakangan ini. Namun para warga berspekulasi bahwa ibunya Imam meninggal karena pandemi ini. Akibat kecemasan yang berlebihan, tidak ada warga yang melayat ke rumah Imam dan keluarga besarnya pun seolah tutup mata atas kemalangan yang ia alami. Namun Imam adalah pemuda yang kuat dan mandiri karena sejak kecil ia selalu berusaha untuk tidak terlalu membebani ibunya. Ia tahu betul bahwa ibunya berjuang sendirian untuk kelangsungan hidup mereka.

    “Mulai hari ini aku harus bangkit. Aku akan mencari pekerjaan dan membuat ibu tersenyum di surga”, gumam Imam.

    Ia pun bangkit dari ranjangnya dan bergegas untuk melakukan salat tahajjud. Imam berharap agar niatannya hari ini diberikan kemudahan oleh Allah SWT. Enam kali salam telah Imam lewati, ia pun bergegas menuju dapur dan segera memasak mie instan untuk santapan sahurnya kali ini. Tak terasa, sang fajar pun mulai menunjukkan taringnya. Imam yang telah selesai melaksanakan salat shubuh, segera berbenah dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang ia rasa penting untuk melamar pekerjaan hari ini. Setelah memakai face shield, ia pun segera meninggalkan kamarnya.

    “Bismillahirrahmanirrahim”, ucap Imam sambil melangkahkan kaki meninggalkan rumahya.
    Imam memutuskan untuk mencari pekerjaan dengan berjalan kaki. Selain alasan kesehatan, menggunakan angkot hanya akan membuat pengeluarannya semakin membengkak. Saat sedang asyik berjalan sambil ber-shalawat, Imam diteriaki oleh Bu Imah.

    “Hai. Imam. Berani-beraninya kau keluar rumah. Apa tak kau pikirkan, ibu kau baru saja meninggal karena COVID dan kau masih saja keluyuran. Tak kau pikirkan kalau kami sampai terkena virus itu karena kau yang berkeliaran ini?”, ucap Bu Imah dengan nada tinggi.

    “Maaf, Bu. Ibu saya meninggal bukan karena COVID, ibu salah paham”, jawab Imam tenang.

    “Halah, alasan saja kau. Mending kau di rumah saja. Kasihan warga kalau harus tersebar virus ibu kau. Dah pulang sana, pulang”, bentak Bu Imah.

    “Maaf, Bu. Saya hanya ingin menyambung hidup. Saya ingin mencari pekerjaan”, jelas Imam.

    “Yakin ada yang mau nerima kau kerja, satu kota juga udah tau kalau ibu kau meninggal karena COVID. Jadi mana ada orang yang mau nerima kau kerja, yang ada mereka takut mempekerjakan kau”

    “Saya hanya bisa ikhtiar dan tawakkal, Bu. Do’ain saya ya agar mudah mendapatkan pekerjaan. Permisi, Bu Imah”

    Imam pun melanjutkan perjalanannya dan tidak begitu memikirkan perkataan Bu Imah agar tidak mengganggu mood hari ini. Setelah cukup jauh melangkah, Imam melihat banner bertuliskan “DIBUTUHKAN KARYAWAN BAGIAN KASIR SECEPATNYA” di sebuah restoran Jepang. Melihat tulisan itu membuat Imam terlalu bersemangat sehingga ia lupa untuk mencuci tangan sebelum masuk ke restoran itu. Melihat kejadian itu, seorang satpam langsung menghadang Imam.

    “Mau kemana, Dek?”, tanya Pak Satpam.

    “Mau melamar pekerjaan, Pak. Itu ada tulisannya”

    “Saya seperti pernah melihat kamu. Tapi di mana ya? Oh iya, saya pernah melihatmu di koran. Kamu ini anaknya Bu Sri yang baru saja meninggal karena corona ya?”, tanya pak satpam sambil mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak.

    “Iya, Pak. Saya anak Bu Sri yang baru saja meninggal. Tapi ibu saya meninggal bukan karena corona. Itu hanyalah salah paham, Pak”, jelas Imam.

    “Mohon maaf, Dek. Kamu dilarang masuk karena restoran ini memiliki keketatan dalam menghadapi pandemi ini. Apalagi ibumu baru saja meninggal dan katanya karena pandemi. Jadi tolong tinggalkan restoran ini”

    “Baik, Pak. Maaf ya, Pak”, ucap Imam dengan nada sedih.

    Perlakuan satpam itu membuat semangat Imam sedikit memudar. Namun Imam tidak menyerah karena ia selalu mengingat pesan dari ibunya yang mengatakan “SELALU ADA HARAPAN BAGI ORANG YANG SERING BERDO’A DAN SELALU ADA JALAN BAGI ORANG YANG SERING BERUSAHA”. Ia terus melangkahkan kakinya dengan tetap ber-shalawat. Setelah berjalan cukup jauh, Imam tersadar bahwa sudah saatnya waktu salat dhuha dan ia bergegas mencari masjid. Namun karena situasi pendemi, hampir semua rumah ibadah di kota ini tutup dan hanya buka di jam salat fardhu saja. Ia akhirnya menemukan tumpukan koran di depan gedung kosong. Segera Imam ber-tayamum karena ia tidak melihat air di sekelilingnya, lalu membentang beberapa helai koran, dan memulai salatnya.

    “Alhamdulillah, ya Allah”, syukur Imam setelah selesai salat.

    Setelah selesai salat dhuha, tak sengaja Imam melihat potongan puisi yang berbunyi              seperti ini.

    Corona…
    Kau bukan hanya membunuh manusia
    Namun kau juga membunuh rasa kemanusiaan segelintir orang

    Bergetar hati Imam setelah membaca potongan puisi itu. Memang benar bahwa saat ini COVID-19 bukan saja mengurangi populasi manusia namun juga menguras rasa empati dan simpati atau sikap muamalah. Padahal muamalah merupakan hal yang sangat diharapkan dapat tertanam dalam jiwa umat Muslim selain hubungun antara umat dengan Allah SWT. Imam menjadi makin sedih teringat sikap penduduk di lingkungannya seolah acuh tak acuh atas musibah yang ia alami. Namun ia harus tetap tegar. Ia tidak bisa berharap semua orang dapat berempati kepadanya. Hal yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah berdo’a dan berusaha agar segala musibah yang ia hadapi segera berlalu.

    Tak sadar waktu menunjukkan pukul 11.00, Imam pun segera memakai face shield dan berjalan menuju gang kecil di sebelah gedung itu. Jalannya sangat sepi. Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan seorang preman.

    “Eitt… Tunggu dulu”, kata preman tersebut sambil memberhentikan langkah Imam.

    “Ada apa ya, bang?”, tanya Imam.

    “Anak mana kau?”

    “Aku tinggal di Jalan Mawar, bang”

    “Oh, anak jalan Mawar. Asal kau tahu, ini daerah kekuasaan aku. Siapapun yang melintas kawasan ini harus nyetor ke aku. Mana uang kau. Mana? Mana?”, bentak preman itu.

    “Maaf, bang. Saya lagi tidak pegang uang”

    “Halah bohong. Sini tas kau”, preman tersebut merampas tas Imam.

    “Serius, bang. Saya emang lagi tidak pegang uang. Ibu saya baru saja meninggal. Ini saya lagi berusaha mencari pekerjaan untuk menyambung hidup, bang”, jelas Imam.

    “Tunggu…. Tunggu…. Tadi kau bilang kalau kau ini anak Jalan Mawar dan Ibu kau baru aja meninggal. Jangan bilang kau anak Bu Sri yang meninggal karena corona itu”, tanya preman tersebut sambil membuang tas Imam.

    “Iya, bang. Saya anak Bu Sri. Tapi…”

    “Alamak, mati aku. Aku udah megang-megang kau. Mampus aku. Sebentar lagi aku akan mati”, ucapnya dan langsung meninggalkan Imam.

    Melihat kejadian itu, Imam pun hanya bisa terdiam dan melanjutkan perjalanannya. Seruan salat Dzuhur pun mulai berkumandang jelas. Imam segera menuju masjid yang masih buka di tengah pandemi ini. Ia pun sampai di salah satu masjid dan segera berwudhu’. Di depan pintu masuk masjid terdapat himbauan untuk menerapkan protokol kesehatan, seperti membawa sajadah dari rumah dan menjaga jarak antara jama’ah. Ternyata setelah salat, pengurus masjid megadakan kultum (Kuliah Tujuh Menit). Salah satu materi yang membuat Imam lebih waspada di tengah pandemi ini adalah:

    Allah SWT. Berfirman dalam Surat Al-Mudatsir ayat 4, 

    yang berbunyi: وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (wa tsiyabaka fa tahhir)
    Yang artinya: Dan bersihkanlah pakaianmu. 

    Besarnya perhatian Islam terhadap kesehatan ini dapat dilihat dari ayat di atas. Bahkan kebersihan pakaian juga wajib dijaga karena ketika beraktivitas memungkinkan banyak kotoran, bakteri dan kuman yang menempel. Maka jika kita baru saja beraktivitas di luar rumah, segeralah mandi dan cucilah pakaian. Apalagi di situasi pandemi ini. Kita tidak tahu virus apa yang menempel selama kita berada di luar ruangan.

    Setelah selesai mendengarkan kultum, Imam pun bergegas meninggalkan masjid dan melanjutkan perjalanannya mencari pekerjaan. Namun reaksi dari semua tempat yang ia datangi tetaplah sama. Para pemilik usaha tidak mau mengambil resiko dengan mempekerjakan Imam karena isu yang telah menyebar luas di kota itu tentang ibunya. Hari makin gelap dan  Imam pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya.

    “Assalamu’alaikum”, kata Imam setelah berhasil membuka pintu rumah dan segera duduk di sofa ruang tengah.

    “Hari ini aku belum mendapatkan pekerjaan. Uang pun semakin menipis. Namun Alhamdulillah aku masih punya segelas air putih untuk mengakhiri puasa hari ini”, kata Imam dalam hati.

    Saat sedang beristirahat dan merenungi semua hal yang terjadi hari ini, datanglah preman yang bertemu dengan Imam di jalanan sepi tadi.

    “Assalamu’alaikum, Imam”, kata preman tersebut.

    “Wa’alaikummussalam, bang. Ada apa ya? Saya emang lagi nggak peganguang, bang”

    “Oh bukan itu, Mam. Aku mau minta maaf karena tadi pagi udah nuduh kalau kau terjangkit corona karena tertular dari Bu Sri. Aku barusan dari rumah sakit dan ku coba swab test. Hasilnya aku non-reaktif. Alhamdulillah. Dokter yang nge-tes aku ternyata orangnya sama dengan yang ngerawat ibu kau waktu sakit kemarin. Jadi dari dokter itu aku tahu kalau ibu kau meninggal bukan karena corona tapi karena riwayat penyakit ginjal yang dideritanya”, jelas preman lugas.

    “Oh, Alhamdulillah kalau abang sudah tahu. Tadinya aku mau kasih tahu tapi abang langsung lari ninggalin waktu tahu kalau aku anak Bu Sri”

    “Iya, aku minta maaf ya. Untuk itu, aku ke sini ingin mengajak kau buka bersama. Ini aku udah beli takjil di tempatnya Bu Imah”

    Saat sedang asyik berbincang, datanglah Bu Imah dengan membawa beberapa takjil sisa jualan beliau hari ini.

    “Imam, maafin ibu ya, tadi abang ini udah cerita semuanya tentang riwayat penyakit ibu kau. Sebagai ungkapan rasa bersalah, setiap sahur dan buka, ibu akan antarkan kau makanan ya. Ibu tahu semenjak ibu kau pergi, kau harus masak sendiri. Ini takjil untuk berbuka kau hari ini ya”, kata Bu Imah sambil menyodorkan kantong berwarna hitam.

    “Alhamdulillah ya Allah. Tapi tidak perlu, Bu. Itu hanya merepotkan ibu saja”

    “Tidak, ibu tidak repot kok, Mam”

    “Alhamdulillah. Terima kasih ya, Bu Imah”

    “Oh iya, Mam. Besok aku ikut kau cari pekerjaan juga ya. Aku dah mau taubat ni. Mau pensiun jadi preman”, potong preman.

    “Baik, bang. Kita cari kerjaan bersama ya”

    Ketika tengah asik berbincang, terdengarlah suara pukulan bedug pertanda berakhirnya puasa hari ini. Mereka pun memutuskan untuk membatalkan puasanya di rumah Imam bersama-sama dan berdiskusi ringan tentang pengembalian nama naik Imam di kota itu. Akhirnnya Imam pun tidak didiskriminasi lagi oleh warga kota itu karena berita yang selama  ini beredar hanyalah spekulasi semata. Sebagai permohonan dan bentuk penyesalannya, Bu Imah memutuskan untuk menanggung segala biaya kuliah Imam hingga lulus. Kini Imam pun sudah mendapatkan pekerjaan bersama preman itu di salah satu pusat perbelanjaan yang membolehkan karyawannya untu bekerja sambil kuliah.


    Biodata :
    Wahyu Amanda Subari, kelahiran Pekanbaru, 13 Januari 2003, Pemenang 1 Lomba Menulis Cerpen Islami, Pemenang 1 Lomba Film Pendek BRSAMPK Kota Pekanbaru, dan Pemenang 3 LKTI Siswa di Universitas Riau, Peserta KSN Ekonomi Provinsi Riau. IG: wahyuamandasubari13, WA: 0823-8788-5815