www.tirastimes.com
Rabu, 19 09 2018
 
Oleh Bujang Kelana
MENGHARGAI WARTAWAN
Kamis, 15-02-2018 - 13:58:27 WIB

TERKAIT:
 
  • MENGHARGAI WARTAWAN
  •  

    Menghargai itu bisa bermakna  berapa harga nominal (how much) atau memberi nilai/ penghargaan (how to appreciate). Profesi wartawan di dunia sangat mulia karena berperan dalam menegakkan kebenaran, membungkam kebathilan, menyuarakan hati nurani rakyat atau membela orang2 tertindas. Saat perjuangan merebut dan mengisi  kemerdekaan RI, banyak tokoh pejuang yg juga berprofesi wartawan seperti Moh. Yamin, Adam Malik, Hamka dll.

    Dalam perkembangan dunia yg begitu pesat, profesi wartawan tetap dipandang hebat dan istimewa. Sebab banyak skandal2 besar  yang dibongkar wartawan di antaranya yang menghebohkan Skandal Water Gate di AS. Namun, sebaliknya tak dapat dipungkiri ada oknum-oknum yang menggunakan profesi wartawan untuk tujuan-tujuan tak beradab: memeras, mengancam, jual-berita berita atau informasi. Hal inilah yang menjatuhkan citra wartawan di mata publik.

    Memang ada Kode Etik Jurnalistik atau Wartawan yang dibuat dan disepakati bersama di bawah pengawasan internal organisasi pers dan Dewan Pers. Namun, tak serta-merta dapat membungkam praktik-praktik tak terpuji  dan mencoreng kemuliaan profesi wartawan.

    Ketika seseorang atau institusi mengundang wartawan  (baik perorangan atau melalui pimpinan media) dalam suatu jumpa pers (press conference) selalu menimbulkan polemik: apakah wartawan yang hadir perlu diberi amplop (bantuan dana peliputan) atau tidak? Bagi media2 besar yang mapan dan memberi gaji cukup dan fasilitas memadai bagi para wartawannya biasanya mewanti-wanti wartawannua untuk tidak menerima uang atau barang atau dalam bentuk apa pun. Tapi satangnya, jumlah media yang mapan ini masih kecil jumlahnya.

    Sedangkan mayoritas media yang baru berkembang atau kurang bonafid tentu tak bisa terlalu ketat memberlakukan aturan menolak bantuan dana peliputan semacam itu. Sebab, pemilik media belum sepenuhnya mampu memberikan gaji atau fasilitas yang cukup bagi para wartawannya. Bisa dimaklumi bila saat jumpa pers, wartawan kategori ini tidak akan menolak pemberian bahkan jangan heran ada yang mempertanyakannya pada pihak pengundang. Tentu saja yang 'diharam'kan adalah tak boleh ada sikap menggertak atau mengancam dari wartawan. Bahkan bila cukup bukti, silakan narasumber atau publik melapirkannya pada pihak berwenang pada organisasi wartawan yang menaungi si wartawan. Atau bila dipandang sudah memenuhi unsur hukum pidana diperbolehkan mengadu ke pihak penegak hukum. Meskipun ada porsi 'lex spesualis' beruoa UU Pokok Pers yang mekindungi tugas jurnalistik  agar tidak mudah dikriminalisasi.

    Tampaknya muncul situasi yang agak dilematis dalam menyikapi cara 'menghargai' wartawan. Untuk media yang bonafid -tentunya jumlahnya bisa dihitung jari- bagi wartawannya yang menerima amlop usai jumpa pers atau wawancara- diberi apresiasi apabila  melapor dan menyerahkan amplop tersebut kepada atasannya di kantor. Selanjutnya sang atasan akan mengembalikan amplop tadi ke pihak pemberi.

    Sementara, mayoritas wartawan bekerja di media-media yang tidak bonafid atau baru berkembang. Apalagi di era digital sekarang, ribuan portal berita bermunculan dengan standar upah yang pas-pasan. Bahkan ada media yang menggaji wartawannyannya dibarter dengan penjualan koran atau majalah atau dipotong dari persentase perolehan iklan atau adverrorial.  Tentu bisa dimaklumi bila wartawan semacam ini saat diundang meliput suatu acara atau jumpa pers, pasti mengharapkan bantuan dana peliputan itu. Tinggal bagaimana pihak pengundang memberikan apresiasi tanpa terkesan merendahkan profesi wartawan.

    Dilematika lain muncul pula ketika wartawan yang menerima bantuan dana peliputan ini tidak memuat berita atau beritanya tidak terpublikasi karena ditolak redakturnya. Selalu pihak pengundang -biasanya petugas humas institusi- menuntut wartawan bersangkutan atau mengadu ke atasan karena berita liputannya tidak muncul di media.

    Lantas, pantaskah tuntutan begini ditujukan untuk wartawan peliput? Tentu tak ada keharusan pemuatan berita tersebut karena nilai berita dipertimbangkan oleh atasannya sangat rendah. Di sisi lain, pihak pengundang atau institusi yang ingin berita atau informasinya muncul di media sudah diberikan ruang atau kolom khusus yang disebut berita promosi atau advertorial yang berbayar. Tentu saja pada bagian kolom berita/ informasi tersebut dituliskan kata 'pariwara' atau 'advertorial' atau sinonim 'adv'. Bahkan tipigrafi hurufnta harus dibedajan dengan huruf yang lazim digunakan. Pola begini sudah lazim dilakukan oleh medua-media besar sekelas Kompas, Tempo, Media Indonesia,  dan sebagainya. Begitu pula, penayangan berita semacam itu di media televisi atau media digital.

    Bagaimanakah mengukur nilai sebuah berita? Semua pakar jurnalistik sepakat bahwa nilai berita sangat ditentukan oleh pengaruh atau dampak, aktualitas atau popularitas yang memang sangat dicari publik. Oleh sebab itu, semua informasi yang aktual dan tergolong 'berita hangat' (hot news) biasanya menempati urutan atas. Sebutlah berita  kecelakaan, kriminal, selebriti, tokoh terkenal (prominent), peristiwa ajaib atau aneh  atau punyai nilai kedekatan dengan publik (proximity) dan semacam itu.

    Sementara berita yang kurang memiliki nilai jual di mata publik adalah peristiwa biasa, upacara atau acara/ event, pelantikan dll. Berira-berita begini sering disebut 'berira gunting pita'. Jangan heran bila redaksi biasanya meminggirkan jenis berita begini bila bersaing merebut kolom halaman media cetak. Bahkan ada media besar yang menberlakukan secara implilisit (tersamar) tarif pemuatan berita di halaman medianya.

    Menghargai wartawan tentu saja tidak dalam konteks nilai 'jual beli' melainkan lebih pada 'apresiasi' pada profesi wartawan. Hanya sikap saling menghargai saja yang dapat menciptakan iklim kondusif atau kedamaian di dalam kehidupan.***

    Penulis adalah wartawan sebior yang hampir 40 tahun menggeluti dunua jurnalistik. Tinggal di Pekanbaru.




     
    Berita Lainnya :
  • MENGHARGAI WARTAWAN
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Dikukuhkan Tak Lama Lagi
    Pengurus ‘Satupena’ Diumumkan, Banyak Tokoh Ternama
    2 Pemko Pekanbaru Usulkan 182 Keluarga Miskin Terima Bantuan Pusat
    3 506 Pegawai Pensiun, Pemprov Riau akan Terima 375 CPNS
    4 Bulan Puasa Semua Aktivitas ASN Berjalan Lancar
    5 Sepuluh Sastrawan ‘Napak Tilas’ Melayu Champa Sepekan di Vietnam
    6 Menguak Motif di Balik Tewasnya Pegawai BNN di Bogor
    7 PT RAPP Gelar Buka Bersama Para Stakeholder.
    PT RAPP Harus Memberi Manfaat bagi Masyarakat dan Lingkungan
    8 Polantas Berikan E-Tilang
    Puluhan Kendaraan Terjaring Razia
    9 Sosok Rektor UIR periode 2017-2021
    Prof. Syafrinaldi, Pribadi Bersahaja yang Mengukir Banyak Prestasi
    10 Kampar Siap Dukung Bupati Siak Membangun Riau Lebih Maju
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Opinion | Indeks
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2017 www.tirastimes.com | LUGAS, TUNTAS..TAS..TAS, All Rights Reserved