www.tirastimes.com
Jum'at, 04 Desember 2020
 
Tulisan telah dibaca sebanyak: kali
Siapa Calon Terkuat Kapolri?, Usai Kapolda Metro Jaya Dicopot.
Selasa, 17-11-2020 - 06:29:18 WIB
Gedung Polri 

TERKAIT:
 
  • Siapa Calon Terkuat Kapolri?, Usai Kapolda Metro Jaya Dicopot.
  •  

    JAKARTA - TIRASTIMES ||  Dinamika di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mendadak riuh, kemarin. Ini tak lepas dari keputusan Kepala Polri Jenderal Polisi Idham Azis mencopot dua kepala kepolisian daerah sekaligus, yaitu Inspektur Jenderal Nana Sudjana dari posisi Kapolda Metropolitan Jakarta Raya dan Irjen Rudi Sufahriadi.

    Dalam keterangan pers di Markas Besar Polri, kemarin, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Irjen Argo Yuwono bilang, "Ada dua kapolda yang tidak melaksanakan perintah dalam menegakkan protokol kesehatan, maka diberikan sanksi berupa pencopotan, yaitu Kapolda Metro Jaya dan Kapolda Jawa Barat," ujar Argo seperti dilaporkan detik.com.

    Khusus untuk Nana, pencopotan itu diduga berkaitan erat dengan kerumunan yang timbul dari acara yang digelar Imam Besar Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab di Petamburan, Jakarta, akhir pekan lalu. Kendati Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menjatuhkan sanksi administratif berupa denda maksimal Rp 50 juta, kritik demi kritik tetap dilontarkan oleh publik.
    Baca: Kapolri Tunjuk Irjen Fadil Imran Jabat Kapolda Metro Jaya


    Sebelum pencopotan itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD memastikan, "Pemerintah akan memberikan sanksi kepada aparat yang tidak mampu bertindak tegas dalam memastikan pelaksanaan protokol kesehatan Covid-19."

    "Kepada aparat keamanan, kepada aparat keamanan, kepada aparat keamanan, pemerintah meminta untuk tidak ragu dan bertindak tegas dalam memastikan protokol kesehatan dapat dipatuhi dengan baik," ujar Mahfud.

    Dus, sebagai pengganti Nana, Idham menunjuk Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Inspektur Jenderal Fadil Imran sebagai Kapolda Metro Jaya. Sementara Nana dimutasi menjadi Korsahli Kapolri.

    Selain itu, Idham juga menunjuk Asisten Kapolri Bidang Logistik Irjen Ahmad Dofiri sebagai Kapolda Jawa Barat. Ahmad menggantikan Rudi yang diangkat menjadi Widyaiswara Tingkat I Lemdiklat Polri.

    Menurut Argo, penunjukkan itu sesuai dengan telegram Kapolri Nomor ST/3222/XI/Kep/2020 tanggal 16 November 2020 tentang Pemberhentian dari dan Pengangkatan Dalam Jabatan di lingkungan Polri.

    Pencopotan Nana sejatinya tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang semata. Ia harus dilihat secara lebih luas, terutama dalam kaitannya dengan sukses kepemimpinan di pucuk tertinggi Polri.

    Seperti diketahui, Idham akan memasuki masa pensiun pada Januari 2021. Semakin dekat waktu, sejumlah sosok pun diprediksi akan menduduki jabatan Kapolri.

    Menurut informasi yang dihimpun CNBC Indonesia, ada tiga calon kuat, yaitu Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Gatot Eddy Pramono, Kepala Badan Pemelihara Keamanan Polri Komisaris Jenderal Agus Andrianto, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Boy Rafli Amar.

    Sementara Kepala Badan Reserse Kriminal Polri yang juga eks ajudan Presiden Joko Widodo, yaitu Komisaris Jenderal Listyo Sigit disebut-sebut terhalang isu agama.

    Lantas, bagaimana dengan sosok Nana? Apakah yang bersangkutan masih memiliki peluang menjadi Kapolri? Seperti apa peluang kandidat lainnya?

    Dalam pernyataannya yang diterima CNBC Indonesia, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta Pane mengatakan, ada sejumlah syarat utama yang harus dipenuhi calon kapolri.
    
"Selain bintang tiga, seharusnya calon kapolri itu dipilih dari figur jenderal bintang tiga yang tidak bermasalah, kapabel, mumpuni, dan promoter," kata Neta.

    IPW menilai, ada empat syarat utama yang harus diperhatikan Presiden Jokowi dalam memilih calon kapolri pengganti Idham. Tujuannya agar presiden tidak terjebak pada "nilai perkawanan yang semu dan menyesatkan".

    Pertama, calon tersebut pernah menjadi kapolda di Pulau Jawa atau di daerah rawan agar instingnya dalam mengantisipasi masalah kamtibmas mumpuni dan keamanan Indonesia tetap prima.

    Kedua, calon kapolri yang dipilih harus paham dengan manajemen dan organisasi Polri secara utuh. Sebab, persoalan besar di Polri saat ini adalah penumpukan personel di jajaran tengah dan atas, mulai dari AKBP, komisaris besar hingga jenderal yang "nganggur" dan tidak jelas kerjanya.

    "Penumpukan ini membuat anggaran Polri habis tersedot untuk fasilitas para kombes dan jenderal tersebut. Pemberian pangkat jenderal jangan hanya karena perkawanan tapi harus berorientasi pada kebutuhan Polri," ujar Neta.

    Ketiga, lanjut dia, calon kapolri harus memahami kebutuhan fasilitas, sarana, dan prasarana Polri sehingga proyek-proyek pengadaan di Polri tepat guna dan tepat sasaran bagi kepentingan kepolisian dalam menjaga kamtibmas.

    "Sehingga orang orang baru yang tidak mengerti tentang kepolisian jangan diberi menangani proyek-proyek pengadaan di Polri. Jangan hanya gara-gara kenal dengan kapolri kemudian diberi proyek pengadaan sehingga proyek tersebut tidak bermanfaat bagi kepentingan Polri," kata Neta.

    Keempat, menurut dia, figur calon kapolri harus paham mengenai sistem karier untuk mengembangkan tugas profesional kepolisian. Tujuannya agar jangan sampai ada seorang pejabat kepolisian yang bertahun-tahun bertugas di satu tempat, seperti Kapolda Bali yang sudah menjabat hampir lima tahun dan tak kunjung dimutasi.

    "Dengan keempat kriteria ini tentunya calon kapolri bisa juga diambil dari bintang dua. Kebetulan dalam waktu dekat ada dua jenderal bintang tiga yang pensiun, sehingga jenderal bintang dua itu bisa didorong atau digeser ke sana untuk kemudian masuk ke dalam bursa calon kapolri. Peluangnya masih terbuka dan semua tergantung presiden," kata Neta.

    
Salah satu komjen yang akan pensiun dalam waktu dekat adalah Kepala Badan Narkotika Nasional, yaitu Komjen Heru Winarko, yang akan pensiun pada 1 Desember 2020.

    Lalu, bagaimana efek dari pencopotan Nana dari jabatan Kapolda Metro Jaya?

    "Dengan dicopotnya Kapolda Metro Jaya, bursa calon kapolri tak banyak berubah. Apalagi Irjen Nana dijadikan Korsahli Kapolri, artinya yang bersangkutan masih punya kesempatan naik menjadi bintang tiga. Jika presiden memintanya menduduki posisi bintang tiga pada Desember mendatang, peluangnya sebagai kapolri tetap ada," ujar Neta.

    
Lebih lanjut, dia bilang kalau banyak perwira bintang tiga di tubuh Polri. Setidaknya ada 13 orang. Akan tetapi, tidak semua nama bisa ikut dalam bursa calon kapolri. Khususnya perwira bintang tiga dari Akpol 87. Kenapa? Sebab, kapolri saat ini berasal Akpol 88. Sehingga jika dipaksakan tentu akan terjadi kemunduran di institusi kepolisian.

    Sehingga, lanjut Neta, yang bisa masuk bursa calon kapolri adalah perwira yang berasal dari Akpol 88A, Akpol 88B, Akpol 90, dan Akpol 91.

    "Di wilayah ini cukup banyak figur jenderal yang mumpuni. Namun IPW melihat dari sekian banyak figur yang mumpuni itu, sepertinya Wanjakti Polri hanya akan memilih lima figur sebagai bakal calon kapolri, yang nantinya akan diserahkan kepada Presiden Jokowi untuk memilihnya," katanya.

    "Dan proses pemilihan oleh Wanjakti Polri itu sendiri masih lama, yakni pertengahan Januari atau usai Polri melakukan tugas besar, yakni pengamanan Natal dan Tahun Baru 2021," lanjut Neta. (st/cnbc)



     
    Berita Lainnya :
  • Siapa Calon Terkuat Kapolri?, Usai Kapolda Metro Jaya Dicopot.
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
    TERPOPULER
    1 Pengasuh : Bambang Karyawan, YS, M.Pd
    EDISI 1 : PUCUK KATA (Lembaran Sastra Remaja)
    2 JADAYAT Yusmar Yusuf
    Misanthropos
    3 UMP Riau 2021 tidak Naik, Gubri Syamsuar: Sudah Saya Tanda Tangan
    4 Kearifan Lokal Daerah Kampar Kiri, Gunung Sahilan
    Buku Puisi Kotau Karya Kunni Masrohanti Berisi Nilai Adat dan Kearifan Lokal Melayu Kampar Kiri
    5 Hots News!!!! Gubernur dan Danrem
    Gubernur Riau dan Danrem 031 Wirabima Membaca puisi, Perhatiannya yg besar pada dunia seni budaya.
    6 Munsi III,sastra
    Munsi III Resmi Ditutup Lahirkan Delapan Rekomendasi Sastra
    7 Mulai 1 November, Lakukan Ini Jika BPJS-Mu Tak Mau Dibekukan!
    8 Sederet Fakta Terbaru Mega Merger Bank Syariah BUMN
    9 Jenderal Polisi Terlibat LGBT, Kompolnas Akan Klarifikasi Irwasum Polri
    10 FPK Riau Keluarkan Penyataan Sikap Soal Dinamika UU Ombibus Law
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Opinion | Indeks
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2017 www.tirastimes.com | LUGAS, TUNTAS..TAS..TAS, All Rights Reserved