www.tirastimes.com
Kamis, 24 Oktober 2019
 
Warga Meninggal Karena Gelombang Panas, India Mulai Berbenah
Kamis, 20-06-2019 - 14:33:30 WIB

TERKAIT:
 
  • Warga Meninggal Karena Gelombang Panas, India Mulai Berbenah
  •  

    TIRASTIMES - Sejumlah pemerintah kota di India mendesak pemerintah agar mengambil tindakan guna menekan korban meninggal dan penyebaran penyakit akibat gelombang panas sebagai dampak pemanasan global yang melanda wilayah mereka. Setidaknya 36 warga India meninggal diduga karena suhu udara yang terus meningkat tahun ini.

    Seperti dilansir Reuters, Rabu (19/6), suhu tertinggi di India tercatat di wilayah Churu, Rajasthan yang mencapai 51 derajat celsius. Sementara, suhu di ibukota New Delhi dilaporkan mencapai 48 derajat Celsius.

    Menurut Sayantan Sarkar yang pernah membantu penerapan Rencana Aksi Panas (HAP) India di kota Ahmedabad pada 2013 silam, kota-kota India mengalami kenaikan suhu karena banyaknya jalan beraspal dan kurangnya pepohonan.

    "Kota-kota menanggung beban gelombang panas ini karena mereka sangat padat penduduk dan karena dampaknya semakin jelas," ujar Sarkar.

    "Tapi tidak semua kota memiliki kemampuan untuk menerapkan langkah-langkah yang diperlukan, dan kurangnya catatan medis yang lengkap membuatnya sulit untuk menolong kelompok yang rentan seperti tunawisma dan pekerja migran," tambahnya.

    Rencana Aksi Panas (HAP) di kota Ahmedabad, India dilakukan setelah gelombang panas terjadi pada 2010 yang mengakibatkan lebih dari 1.300 kematian.

    Rencana aksi dalam HAP seperti menyediakan sistem peringatan menggunakan tampilan elektronik di tempat umum juga melalui pesan teks. Pemerintah juga memberikan latihan kepada petugas medis untuk mengetahui gejala penyakit akibat pemanasan global, serta menyediakan "atap dingin" dari bahan tertentu atau pelapis di beberapa kawasan pemukiman kumuh.

    Menurut Shivani Chaudhry selaku direktur eksekutif Jaringan Permukiman dan Hak Tanah (HLRN), rencana tersebut sangat membantu sejumlah kota seperti Delhi dengan salah satu populasi tunawisma terbesar di India.

    "Para tunawisma merupakan yang paling rentan terhadap udara panas, karena mereka tinggal di luar ruangan dan tidak mendapat tempat berteduh yang cukup, air minum, dan akses kesehatan," ujar Chaudry.

    Pejabat pemerintah Delhi melaporkan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan rencana aksi guna mengurangi dampak cuaca ekstrem seperti gelombang panas kali ini. Rencana aksi tersebut dijadwalkan siap pada 2020 mendatang.

    Sementara itu, Lembaga Penanggulangan Bencana Nasional (NDMA) India turut mengeluarkan pedoman pada 2016 terkait rencana aksi pemanasan global seperti yang diterapkan di Ahmedabad. Pedoman tersebut telah diterapkan di belasan negara bagian India.

    Gelombang panas ini kerap terjadi di India pada periode April hingga Juni. (Yuen)



     
    Berita Lainnya :
  • Warga Meninggal Karena Gelombang Panas, India Mulai Berbenah
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Ikatan Mahasiswa Siak di Jogja Komit Promosikan Budaya Daerah
    2 Meriahnya Kampung Toga dari Mempura
    3 GenRe Educamp 2019 Upaya BKKBN Hadapi Permasalahan Remaja
    4 Pompong Tenggelam di Rohul, 1 Penumpang Tewas
    5 Gubri jadi Tamu Istimewa di MTQ Ke XVII Kecamatan Tualang
    6 292 CJH Pekanbaru Belum Lunasi BPIH Tahap Pertama
    7 Sudah 147 Usaha di Pekanbaru Urus Izin Restoran dan Rumah Makan Non Muslim
    8 Naik Helikopter, Alfedri Pantau Karhutla di Rawang Air Putih dan Tasik Betung
    9 Sekda Siak Sebut Bapekam Mesti Paham Tupoksi
    10 Silat Serunting 12 Pukau Pengunjung Pawai FPN
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Opinion | Indeks
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2017 www.tirastimes.com | LUGAS, TUNTAS..TAS..TAS, All Rights Reserved