www.tirastimes.com
Rabu, 20 Maret 2019
 
Puisi Fakhrunnas MA Jabbar: Balada Atan Lawa dan Chen Hwa, Mengukir Cinta Tanpa Prasangka
Selasa, 31-10-2017 - 00:38:50 WIB
Fakhrunnas MA Jabbar
TERKAIT:
 
  • Puisi Fakhrunnas MA Jabbar: Balada Atan Lawa dan Chen Hwa, Mengukir Cinta Tanpa Prasangka
  •  

    atan lawa lahir kala purnama menjuntai di pantai
    emak melayu ayah perantau  jawa bercinta di usia belia
    teman sepengajian di kampung nelayan
    saling cinta tanpa prasangka

    chen hwa bermata sipit, hidung mangir dan kulit putih melepak
    terlahir emak tionghoa ayah batak
    saling cinta tak diterima keluarga
    chen hwa kecil diberi marga tapi kurang disuka

    kini atan lawa merajut kasih dengan chen hwa
    cinta terdedah tersebab suka saling jumpa sepulang sekolah bersama-sama
    begitulah cinta yang tak mudah tak disuka keluarga
    mengapa ada prasangka

    padahal bumi kita sama
    air disauk dari sungai sama
    tak ada beda
    nasi dimakan dari sawah sama
    udara dihirup dari pucuk daun dan untai embun
    di kampung sama
    tapi mengapa selalu ada prasangka bila cinta menjelma jadi cita
    padahal hubungan darah tak mudah dibelah-belah

    atan lawa memacu laju kereta cinta membawa chen hwa penuh rahasia
    segala rintang dia tantang
    begitu pula chen hwa yang tenang
    memacu cinta penuh gelora
    tak peduli larangan orangtua dan sanak keluarga
    sepasang kekasih itu semakin dekat membuang jauh segala prasangka

    atan lawa pun jadi berang
    kala keluarga chen hwa menantang hubungan
    dengan segenap tenaga dan daya
    hati bertemu hati menjadi cinta sejati
    chen hwa pun kian terpesona
    tak mudah digoyah oleh sesiapa

    maka berujarlah atan lawa pada keluarga chen hwa
    kala  paman chen hwa meminta akhiri kisah cinta
    tersebab tak sepadan darah dan keturunan
    pantun melayu lama pun diucap lincah:

    ketuku batang ketakal
    dua-dua keladi moyang
    sesuku kita seasal
    sama-sama senenek moyang

    atan lawa terus berhujjah
    chen hwa tak mungkin ditinggal pergi
    tak boleh ada prasangka
    di hamparan bumi anugerah tuhan
    tak boleh ada diskriminasi atas nama suku dan keturunan, agama dan darah
    apalagi beda warna kulit atau gelombang rambut yang terbawa sejak tangus pertama

    chen hwa pun begitu bersetuju tanpa ragu
    mestinya semua kita bersatu tak hirau nasib dan perjodogan
    kita perlu bersatu
    perlu bersama tanpa prasangka
    saling hormat dan menghargai
    demi negeri
    demi indonesia

    pekanbaru, 28 oktober 2017







     
    Berita Lainnya :
  • Puisi Fakhrunnas MA Jabbar: Balada Atan Lawa dan Chen Hwa, Mengukir Cinta Tanpa Prasangka
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Di Daerah Ini, Merokok Sembarangan Bakal Didenda Rp 5 Juta
    2 Bawaslu Temukan Ribuan Surat Suara Rusak
    3 Malam Tahun Baru, Akan Ada Car Free Night di Pekanbaru
    4 APBD Meranti Tahun 2019 Disahkan Rp1.4 Triliun
    5 Imam Masjid Istiqlal Ungkap Pernikahan Syahrini dan Reino Barack di Jepang
    6 MTQ Tingkat Kecamatan Tampan Digelar 3-4 Maret
    7 Polri Petakan Wilayah Rawan Selama Pilpres dan Pileg 2019
    8 Jokowi Kunjungi Riau 8 Desember?
    9 Buku Puisi Bunatin Karya Dheni Kurnia Dibedah
    10 Tiga Amal Saleh ini Paling Dicintai Allah
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Opinion | Indeks
    Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
    © 2017 www.tirastimes.com | LUGAS, TUNTAS..TAS..TAS, All Rights Reserved